Presiden China Xi Jinping akan menghadiri Pertemuan Pemimpin Ekonomi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) ke-32 di Korea Selatan dalam waktu dekat, membawa visi yang tegas mengenai masa depan kawasan. Kehadiran Xi bukan sekadar agenda diplomatik, melainkan upaya strategis untuk membangun kembali konsensus regional di tengah meningkatnya guncangan perdagangan, ketidakpastian geopolitik, dan proyeksi perlambatan ekonomi.
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Asia-Pasifik akan melambat dari $4,5\%$ tahun ini menjadi $4,1\%$ pada 2026. Angka ini menjadi pengingat kritis bahwa semangat kolaborasi dan keterbukaan harus dijaga sebagai kunci ketahanan dan keberlanjutan pertumbuhan. Melalui forum APEC, Xi diperkirakan akan menegaskan kembali komitmen China terhadap globalisasi ekonomi yang terbuka dan inklusif.
Asia-Pasifik sebagai Mesin Global: Fondasi Visi Xi
Bagi Xi, kawasan Asia-Pasifik adalah prioritas utama dan dipandang bukan sekadar pusat pertumbuhan, melainkan mesin utama yang mampu mendorong pemulihan dan kemajuan ekonomi global. Visi ini telah lama ia anut: Asia-Pasifik harus tetap menjadi penggerak utama perekonomian dunia.
Komitmen ini terwujud dalam statistik perdagangan: anggota APEC secara kolektif menyumbang lebih dari $60\%$ total Produk Domestik Bruto (PDB) dunia pada 2025. China memanfaatkan momentum ini dengan memperdalam hubungan ekonominya; sebanyak 15 dari 20 negara anggota APEC telah menjalin kemitraan perdagangan bebas dengan Beijing.
Contoh nyata dari pendekatan ini terlihat pada hubungan China dan Malaysia. China telah menjadi mitra dagang terbesar Malaysia selama 16 tahun berturut-turut. Perkembangan hubungan ini diperkuat dengan dibukanya akses pasar China secara lebih luas untuk durian Malaysia pada Juni 2024. Nilai perdagangan kedua negara mencapai rekor $212$ miliar Dolar AS pada tahun yang sama, sebuah capaian signifikan di tengah tren perlambatan global.
Dalam kunjungannya ke Kuala Lumpur, Xi menyampaikan pesan kunci: China siap bekerja sama dengan negara-negara di kawasan untuk memanfaatkan stabilitas dan kepastian Asia guna melawan ketidakstabilan dan ketidakpastian global. Pesan ini disambut baik oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang menegaskan bahwa ASEAN menolak pengenaan tarif sepihak dan akan terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi melalui kolaborasi.
BACA JUGA : Waskita Karya Jamin Proyek Transmisi Sumatera: Gadaikan Rekening Rp 147,4 Miliar ke Bank BRI
Keterbukaan sebagai Strategi Jangka Panjang
Komitmen Xi terhadap keterbukaan bukanlah hal baru, melainkan telah menjadi ciri khas strategi pembangunan China sejak lama. Hal ini tercermin dari visinya pada era 1980-an mengenai potensi kota pesisir seperti Xiamen untuk berkembang pesat melalui pembangunan pelabuhan bebas. Pengalaman awal, termasuk kunjungan tim peneliti yang dipimpinnya ke Singapura pada 1987 untuk mempelajari sistem pelabuhan bebas, menjadi fondasi bagi Zona Ekonomi Khusus yang kemudian menjadi model keterbukaan.
Sejak debutnya di forum APEC pada 2013, Xi telah menetapkan arah yang jelas bagi kebijakan ekonomi luar negeri China, yaitu membangun kerangka kerja sama regional yang mencakup kedua sisi Samudra Pasifik dan memberikan manfaat bagi semua pihak.
Tonggak pencapaian visi ini meliputi:
- Peta Jalan Beijing (2014): Dalam pertemuan APEC di Beijing, para pemimpin mengadopsi “Peta Jalan Beijing” yang memulai proses menuju pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas Asia-Pasifik (FTAAP).
- Implementasi RCEP: Di bawah kepemimpinan Xi, China sepenuhnya menerapkan komitmen dalam Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), zona perdagangan bebas terbesar di dunia yang menghubungkan 15 negara Asia-Pasifik (12 di antaranya anggota APEC).
- CAFTA 3.0: China dan ASEAN menandatangani perjanjian Kawasan Perdagangan Bebas China-ASEAN Versi 3.0 pada Oktober 2025, yang memperdalam integrasi ekonomi kawasan secara signifikan.
Sekretaris Jenderal Sekretariat Kerja Sama Trilateral (TCS), Lee Hee-sup, memandang bahwa dengan mengejar multilateralisme dan perdagangan bebas, China memainkan peran utama dalam berbagai mekanisme multilateral di kawasan, termasuk APEC dan RCEP, dan diharapkan dapat terus menunjukkan kepemimpinannya.
Konektivitas Fisik dan Nonfisik: Melawan Fragmentasi
Visi Xi tentang konektivitas meluas dari infrastruktur fisik hingga hubungan antarmanusia. Gagasan Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (BRI), yang diusulkan Xi di Indonesia pada 2013, kini telah menjadi mesin pertumbuhan yang menghubungkan Asia-Pasifik dengan dunia.
Proyek-proyek BRI terbaru, seperti pembahasan pembangunan jalur kereta China-Vietnam dan peresmian Pelabuhan Chancay di Peru (gerbang maritim baru yang memangkas waktu pengiriman barang ke China hingga $20\%$), menunjukkan perluasan jangkauan dan efisiensi logistik.
Di tengah meningkatnya risiko fragmentasi rantai pasok global, Xi menekankan perlunya konektivitas nonfisik. Ia berpendapat bahwa negara-negara harus memandang saling ketergantungan ekonomi sebagai peluang, bukan sumber risiko. Xi menyampaikan pesan simbolis kepada para pemimpin bisnis global pada Maret 2025: “Memadamkan cahaya orang lain tidak akan membuat cahaya Anda bersinar lebih terang dan menghalangi jalan orang lain hanya akan menghalangi jalan Anda sendiri.”
Konektivitas nonfisik juga diperkuat melalui pertukaran budaya. Xi meyakini bahwa dialog budaya dan saling pengertian menjadi fondasi kerja sama berkelanjutan. Kebijakan bebas visa dan inisiatif budaya China menjadi bukti upaya ini, yang diakui pula oleh Presiden Chile Gabriel Boric dalam pertemuan APEC 2024.
Visi Komunitas Masa Depan Bersama
APEC lahir dengan misi mendorong keterbukaan dan integrasi ekonomi, yang melahirkan “Keajaiban Asia-Pasifik.” Menjawab pertanyaan bagaimana menciptakan 30 tahun emas berikutnya, Xi secara konsisten menyerukan pembentukan Komunitas Asia-Pasifik dengan masa depan bersama.
Visi ini sejalan dengan Visi Putrajaya 2040 APEC. Xi menekankan pentingnya mengatasi perbedaan melalui konsultasi dan kerja sama, merujuk pada kearifan kuno China: “Kebaikan tertinggi bagaikan air yang memberi manfaat bagi segala sesuatu tanpa saling bersaing.” Ungkapan ini menegaskan pandangannya tentang koeksistensi dan kerja sama yang setara, di mana Samudra Pasifik “cukup besar untuk menampung semua pihak.”
Bahkan dalam isu krusial seperti perubahan iklim, China memperkuat kemitraan dengan negara-negara regional, seperti dengan Brunei (tuan rumah Pusat Perubahan Iklim ASEAN). Xi memandang kerja sama ini sebagai contoh bagaimana negara besar dan kecil dapat menjadi mitra yang setara.
Menggambarkan perekonomian dunia berada dalam tarik-menarik antara integrasi dan fragmentasi, Xi meyakini bahwa kekuatan yang mendorong integrasi dan keterbukaan akan keluar sebagai pemenang.
Jalan Bersama Menuju Kemakmuran
Kehadiran Presiden Xi Jinping di APEC ke-32 adalah penegasan kembali bahwa di tengah ketidakpastian global, China memilih jalur multilateralisme dan keterbukaan tingkat tinggi. Visi yang dipaparkannya, berakar dari pengalaman lokal hingga inisiatif global seperti BRI dan RCEP, bertujuan menjadikan Asia-Pasifik sebagai lokomotif globalisasi berikutnya.
Namun, keberhasilan visi ini bergantung pada kesediaan negara-negara anggota APEC untuk menanggalkan unilateralisme dan proteksionisme. Pesan Xi jelas: dunia memerlukan jembatan komunikasi dan jalur kerja sama yang saling menguntungkan. Selama kawasan ini bertindak dengan semangat keterbukaan dan konektivitas, Samudra Pasifik yang luas tidak akan menjadi penghalang, melainkan jalan bersama menuju kemakmuran dan pertumbuhan yang lebih besar bagi seluruh dunia.



