Washington D.C./Caracas, 30 November 2025 – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela kembali memuncak setelah Presiden AS, Donald Trump, memerintahkan penutupan wilayah udara Venezuela pada Sabtu (29/11/2025). Perintah keras ini secara signifikan meningkatkan spekulasi mengenai potensi eskalasi konflik militer antara kedua negara yang telah memanas selama beberapa pekan terakhir.
BACA JUGA : Hong Kong Berkabung Tiga Hari, Mengenang 128 Korban Tewas Kebakaran Apartemen
Melalui platform media sosialnya, Truth Social, Trump mengeluarkan imbauan yang tidak biasa, ditujukan kepada berbagai pihak—mulai dari penerbangan komersial hingga elemen ilegal—untuk menghindari langit Venezuela.
“Kepada semua Maskapai Penerbangan, Pilot, Pengedar Narkoba, dan Pedagang Manusia, tolong pertimbangkan WILAYAH UDARA DI ATAS DAN DI SEKITAR VENEZUELA DITUTUP SELURUHNYA,” tulis Trump, tanpa memberikan detail atau dasar hukum lebih lanjut mengenai penutupan tersebut, sebagaimana dikutip oleh kantor berita AFP.
Peringatan dari Trump ini muncul setelah otoritas penerbangan AS sebelumnya telah mengimbau maskapai penerbangan untuk meningkatkan kewaspadaan di wilayah udara Venezuela, merujuk pada situasi keamanan yang memburuk dan meningkatnya aktivitas militer di kawasan. Hingga Sabtu sore, situs pelacakan penerbangan, FlightRadar24, menunjukkan adanya penurunan drastis aktivitas pesawat di atas wilayah udara negara tersebut.
Kecaman Keras dari Venezuela
Pemerintah Venezuela segera merespons pernyataan Trump dengan kecaman keras. Kementerian Luar Negeri Venezuela menyebut langkah tersebut sebagai “bentuk agresi baru yang berlebihan, ilegal, dan tidak dapat dibenarkan terhadap rakyat” Venezuela.
Caracas juga memperingatkan bahwa penutupan wilayah udara dan gangguan penerbangan yang ditimbulkan dapat secara serius menghambat program repatriasi migran Venezuela dari AS, menambah kompleksitas krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Operasi Militer AS di Karibia
Langkah penutupan wilayah udara ini memperparah hubungan yang sudah tegang akibat penempatan kekuatan militer besar-besaran AS ke kawasan Karibia, termasuk pengerahan kapal induk terbesar di dunia. Washington berdalih bahwa operasi tersebut bertujuan memerangi perdagangan narkoba. Namun, Caracas menuduh Washington menggunakan operasi ini sebagai dalih terselubung untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.
Sejak awal September 2025, pasukan AS telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 20 kapal yang dicurigai terlibat dalam penyelundupan narkoba di Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur, yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 83 orang. Meskipun demikian, AS belum mempublikasikan bukti konklusif yang menunjukkan bahwa kapal-kapal tersebut benar-benar mengangkut narkoba atau menimbulkan ancaman langsung.
Situasi diperparah oleh pernyataan Trump sebelumnya yang sempat mengindikasikan bahwa serangan darat ke Venezuela akan segera dimulai. Pada saat yang sama, aktivitas pesawat militer AS tercatat berulang kali beroperasi hanya puluhan kilometer dari garis pantai Venezuela, menurut data pelacakan penerbangan.
Menanggapi tekanan ini, Presiden Maduro, yang terpilih kembali dalam pemilu yang hasilnya ditolak oleh banyak komunitas internasional, merespons dengan menggelar latihan militer nasional dan aksi demonstrasi besar untuk memamerkan kekuatan militer serta dukungan rakyatnya.
Meski ketegangan di publik memuncak, sebuah laporan dari The New York Times mengungkapkan dinamika komunikasi di balik layar: Trump dan Maduro dikabarkan sempat berbincang melalui telepon pada pekan lalu, membahas kemungkinan adanya pertemuan langsung antara kedua pemimpin di Amerika Serikat.



