KUTAI BARAT – Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memberikan penjelasan mendalam mengenai fungsi strategis Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). Satuan yang baru saja diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto ini dirancang untuk memiliki peran ganda yang tidak hanya terbatas pada operasi militer perang, tetapi juga pada penguatan ekonomi nasional.
Dalam arahannya di Jempang, Kutai Barat, Kalimantan Timur pada Selasa (13/1/2026), Menhan menegaskan bahwa Yonif TP tetap memegang teguh jati diri sebagai satuan infanteri, namun dengan tambahan tanggung jawab di sektor teritorial pembangunan.
BACA JUGA :
Filosofi Dua Tangan: Keamanan dan Kesejahteraan
Menhan Sjafrie menggambarkan struktur tugas Yonif TP melalui analogi “dua tangan” untuk menunjukkan keseimbangan peran antara pertahanan dan pembangunan:
- Tugas Pokok Infanteri: Sebagai satuan tempur, prajurit tetap dilatih untuk menjalankan mandat inti yakni mencari, menemukan, dan melumpuhkan ancaman atau musuh negara.
- Tugas Teritorial Pembangunan: Sebagai nilai tambah, satuan ini diinstruksikan untuk mendukung program-program pembangunan ekonomi di wilayah penugasan mereka.
“Batalyon Teritorial Pembangunan itu intinya adalah Batalyon Infanteri. Namun, tugas teritorial merupakan mandat tambahan untuk mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi kita,” jelas Sjafrie.
Implementasi Sistem Meritokrasi di Tubuh TNI
Selain membahas struktur satuan baru, Menhan juga menyoroti transformasi dalam sistem pembinaan karier dan penugasan personel TNI. Saat ini, institusi pertahanan tersebut mulai mengadopsi secara penuh filosofi merit system atau meritokrasi.
Dalam sistem ini, promosi dan penugasan strategis tidak lagi hanya didasarkan pada aspek senioritas semata, melainkan pada prestasi, kapabilitas, dan kinerja nyata di lapangan.
- Prestasi sebagai Parameter Utama: Prajurit yang menunjukkan dedikasi dan prestasi tinggi akan mendapatkan prioritas untuk tugas operasi, latihan internasional, maupun pendidikan lanjutan.
- Kesetaraan Peluang: Menhan menegaskan bahwa usia maupun urutan angkatan tidak boleh menjadi penghalang bagi prajurit berprestasi untuk berkembang. “Kita tidak melihat senior dan junior, tetapi melihat prestasi,” tambahnya.
Pembinaan Satuan secara Berjenjang
Untuk memastikan efektivitas sistem ini, Menhan menekankan pentingnya pembinaan yang sistematis dan berjenjang. Komandan satuan di setiap level memikul tanggung jawab besar untuk menyiapkan prajuritnya menghadapi berbagai dinamika penugasan.
Proses pembinaan ini dilakukan secara linier, di mana Komandan Batalyon dibina oleh Komandan Brigade, dan Komandan Brigade berada di bawah supervisi Komando Daerah Militer (Kodam). Pola ini diharapkan dapat menciptakan standarisasi kepemimpinan yang kuat dan profesional di seluruh jajaran TNI.
Penekanan pada sistem meritokrasi ini diharapkan mampu memotivasi seluruh prajurit untuk terus meningkatkan kompetensi diri, sehingga TNI menjadi organisasi yang lebih modern, adaptif, dan responsif terhadap tantangan zaman.



