Unit Kepolisian Patroli Perbatasan Thailand ke-437 menuai kritik dan kekesalan dari masyarakat setelah ketahuan menggunakan foto yang telah dimanipulasi dengan teknologi Akal Imitasi (Artificial Intelligence/AI) untuk menggambarkan upaya penyelamatan korban banjir.
Foto yang diunggah di laman Facebook resmi unit tersebut menampilkan sejumlah personel bersenjata lengkap tengah menaiki perahu karet, seolah sedang berjuang melawan arus banjir parah di wilayah Thailand selatan. Dalam gambar AI tersebut, para petugas tampak mengenakan helm, rompi antipeluru, dan memegang senjata, memberikan kesan tengah menjalankan misi militer yang heroik dan berisiko tinggi.
BACA JUGA : Perubahan Pola TPPO-Scam di Kamboja: Sindikat Kini Incar Anak Muda Melek Teknologi
Tanda Air Digital Ungkap Manipulasi
Kecurigaan muncul ketika tim pemeriksa fakta dari kantor berita AFP menggunakan alat pendeteksi digital milik Google, SynthID. Alat tersebut berhasil menemukan tanda air (watermark) digital berbentuk bintang Gemini di sudut gambar. Tanda ini mengonfirmasi bahwa foto tersebut memang dibuat dan dimanipulasi menggunakan perangkat lunak AI milik Google.
Setelah fakta manipulasi terbongkar, unit polisi tersebut segera mengunggah foto aslinya. Foto versi sebenarnya menunjukkan situasi yang jauh berbeda: para petugas hanya mengenakan pelampung berwarna oranye, tanpa membawa senjata, dan tidak memakai perlengkapan tempur.
“Ini gambar asli sebelum dibuat menjadi gambar AI,” tulis unit tersebut dalam pernyataan permintaan maaf yang dirilis pada Kamis (28/11/2025). “Kami mohon maaf atas kesalahpahaman yang terjadi.”
Alasan dan Kritik Publik
Seorang perwakilan dari unit kepolisian tersebut, yang enggan disebutkan namanya, menjelaskan kepada AFP bahwa tujuan penggunaan foto AI itu adalah untuk menunjukkan kepada publik mengenai kesiapan mereka dalam memasuki area bencana. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada satu pun personel yang membawa senjata api saat menjalankan misi bantuan korban banjir yang sebenarnya.
Meskipun demikian, penggunaan foto AI ini telah memicu kemarahan publik Thailand. Warga kesal karena alih-alih menyajikan realitas dan kebutuhan nyata di lapangan, pihak kepolisian justru berfokus pada upaya pencitraan. Kekesalan ini diperparah oleh beredarnya video di media sosial yang sempat memperdengarkan suara tembakan di kawasan banjir Kota Hat Yai, yang membuat publik semakin mempertanyakan situasi keamanan dan prioritas penanganan bencana.
Peristiwa ini menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam komunikasi publik, terutama oleh lembaga keamanan, di tengah bencana alam yang memerlukan kepercayaan penuh dari masyarakat. Pihak kepolisian bersikeras bahwa tidak ada satu pun anggotanya yang dikenai sanksi atas unggahan foto palsu tersebut.



