Ekspektasi Konflik Global: Mayoritas Publik Barat Prediksi Perang Dunia III Pecah dalam Lima Tahun
Internasional

Ekspektasi Konflik Global: Mayoritas Publik Barat Prediksi Perang Dunia III Pecah dalam Lima Tahun

WASHINGTON D.C. – Gelombang pesimisme terhadap stabilitas keamanan global tengah menyelimuti masyarakat di negara-negara Barat. Berdasarkan hasil jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh Politico, hampir separuh warga Amerika Serikat meyakini bahwa Perang Dunia III kemungkinan besar akan meletus dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Baca juga ; Rangkuman Populer Global: Eskalasi Militer AS di Timur Tengah hingga Kontroversi Pemusnahan Rekaman Jeffrey Epstein

Eskalasi Kekhawatiran di Amerika Serikat dan Inggris

Survei yang dilakukan terhadap lebih dari 2.000 responden di lima negara Barat pada periode 6–9 Februari 2026 ini menunjukkan tren peningkatan ketakutan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Di Amerika Serikat, sebanyak 46 persen responden menilai perang dunia baru “mungkin” atau “sangat mungkin” terjadi sebelum tahun 2031, naik dari angka 38 persen pada Maret 2025.

Peningkatan persepsi ancaman paling drastis tercatat di Inggris, di mana kekhawatiran publik melonjak dari 30 persen menjadi 43 persen dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Fenomena ini menandakan bahwa masyarakat internasional mulai melihat konflik berskala besar bukan lagi sebagai kemungkinan teoretis, melainkan ancaman nyata di depan mata.

Pergeseran Persepsi Ancaman: Rusia dan Amerika Serikat

Terdapat perbedaan sudut pandang yang menarik mengenai aktor yang dianggap sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian dunia:

  • Eropa: Responden di Inggris dan Perancis menempatkan Rusia sebagai ancaman utama, terutama menyusul berlarutnya konflik di Ukraina yang kini memasuki tahun keempat.
  • Kanada: Secara mengejutkan, publik Kanada justru memandang Amerika Serikat sebagai ancaman terbesar bagi keamanan nasional mereka.
  • Eropa Barat: Di Perancis, Jerman, dan Inggris, Amerika Serikat menempati posisi kedua sebagai ancaman keamanan setelah Rusia, menggeser posisi China dalam persepsi risiko publik.

Bayang-bayang Senjata Nuklir

Sentimen ketidakamanan ini diperburuk dengan persepsi mengenai penggunaan senjata pemusnah massal. Setidaknya sepertiga responden di AS, Inggris, Perancis, dan Kanada percaya bahwa senjata nuklir kemungkinan besar akan digunakan dalam konflik berskala besar di masa depan. Seb Wride dari lembaga jajak pendapat Public First menyatakan bahwa pergeseran dramatis ini mencerminkan dunia yang semakin tidak aman dan aliansi internasional yang kian rapuh.

Paradoks Anggaran Pertahanan

Meskipun menyadari adanya peningkatan risiko perang, publik di negara-negara Barat menghadapi dilema terkait pembiayaan militer. Survei menunjukkan adanya kontradiksi antara kesadaran akan ancaman dan kesediaan berkorban secara ekonomi:

  1. Dukungan Teoretis: Mayoritas warga di Perancis, Jerman, Inggris, dan Kanada setuju bahwa anggaran pertahanan perlu ditingkatkan.
  2. Penolakan Konsekuensi: Dukungan tersebut merosot tajam ketika dihadapkan pada skenario pemotongan anggaran layanan publik, peningkatan utang negara, atau kenaikan pajak.

Kecenderungan ini menunjukkan adanya “kelelahan fiskal” di tengah tekanan keamanan. Publik menginginkan pertahanan yang lebih kuat, namun enggan mengorbankan kesejahteraan domestik mereka untuk mendanai modernisasi militer. Kondisi ini menempatkan para pemimpin Barat dalam posisi sulit untuk menyeimbangkan antara kesiapan tempur dan stabilitas ekonomi nasional.