JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi tegas kepada jajaran pemerintahan dan otoritas industri untuk mempercepat pemanfaatan mineral kritis, khususnya Logam Tanah Jarang (rare earth). Langkah ini diambil sebagai strategi besar memperkuat kedaulatan industri nasional dan meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui hilirisasi komoditas strategis.
Kepala Badan Industri Mineral, Brian Yuliarto, mengungkapkan bahwa arahan Presiden fokus pada dua pilar utama: percepatan hilirisasi dan penguasaan teknologi tingkat tinggi agar kekayaan alam tersebut tidak sekadar diekspor dalam bentuk mentah.
BACA JUGA : Persiapan Ramadhan 2026: Pemerintah Prioritaskan Rehabilitasi Masjid di Wilayah Pasca-Bencana Sumatera
Fokus Aplikasi: Pengembangan Mobil Nasional (Mobnas)
Salah satu visi besar dari pemanfaatan rare earth ini adalah mendukung industri otomotif dalam negeri, khususnya pengembangan kendaraan listrik (EV). Indonesia membidik pengolahan unsur spesifik seperti Neodimium-Praseodimium (NdPr).
“Salah satu aplikasinya adalah Mobil Nasional. Di sana terdapat NdPr, yaitu komponen untuk permanen magnet yang sangat dibutuhkan untuk motor penggerak kendaraan listrik,” jelas Brian usai pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (15/1/2026).
Peran Danantara dalam Kerja Sama Global
Dalam upaya mempercepat penguasaan teknologi yang belum sepenuhnya dimiliki Indonesia, Presiden menginstruksikan Badan Pengelola Investasi Danantara untuk bertindak sebagai penghubung internasional. Danantara diharapkan mampu membangun kemitraan strategis dengan pihak luar negeri untuk transfer teknologi hilirisasi.
Pemerintah menekankan beberapa poin dalam kerja sama ini:
- Transfer Teknologi: Membangun “jembatan” dengan mitra global yang memiliki teknologi pemurnian logam tanah jarang.
- Akselerasi Riset Domestik: Mendorong riset mendalam di dalam negeri agar industri logam tanah jarang dapat mandiri secara teknologi dalam jangka panjang.
- Hilirisasi Terintegrasi: Memastikan proses dari penambangan hingga menjadi komponen jadi (seperti magnet permanen) dilakukan di Indonesia.
Pertemuan Strategis lintas Sektoral
Pertemuan di Istana tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengintegrasikan berbagai sektor untuk mewujudkan industri mineral kritis. Selain Brian Yuliarto, turut hadir sejumlah pejabat kunci, antara lain:
- Sigit Puji Santosa (Direktur Utama PT Pindad): Mengindikasikan potensi penggunaan mineral kritis dalam industri pertahanan dan manufaktur alat berat.
- Prasetyo Hadi (Menteri Sekretaris Negara): Mengawal aspek administrasi dan regulasi percepatan program.
- Utusan Luar Negeri: Kehadiran tamu internasional yang dirahasiakan identitasnya memperkuat sinyal adanya penjajakan kerja sama investasi dan teknologi tingkat tinggi.
Signifikansi Strategis Mineral Kritis
Logam tanah jarang sering disebut sebagai “vitamin” bagi industri modern. Selain untuk kendaraan listrik, mineral ini sangat vital bagi perangkat elektronik, turbin angin, hingga peralatan medis canggih. Dengan cadangan yang tersedia, Indonesia berpeluang menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global (global supply chain) mineral kritis, bersaing dengan dominasi negara-negara besar lainnya.



