Moskow, 30 November 2025 – Pemerintah Rusia meningkatkan tekanan terhadap platform komunikasi Barat, mengancam akan memblokir secara total aplikasi pesan instan populer WhatsApp, yang dimiliki oleh perusahaan teknologi AS, Meta. Ancaman ini didasari oleh klaim bahwa aplikasi tersebut gagal mematuhi undang-undang domestik Rusia dan dinilai tidak cukup efektif dalam mencegah tindak kejahatan.
Badan pengawas komunikasi Rusia, Roskomnadzor, melalui pernyataan pada Jumat (28/11/2025), secara eksplisit mengancam pemblokiran penuh. “Jika aplikasi pesan tersebut tidak mematuhi undang-undang Rusia, aplikasi akan diblokir sepenuhnya,” tegas Roskomnadzor, sebagaimana dikutip oleh kantor berita AFP.
BACA JUGA : Malaysia Akan Larang Anak di Bawah 16 Tahun Menggunakan Media Sosial Mulai 2026
Perjuangan Kontrol Data dan Komunikasi Aman
Langkah ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya pada Agustus, Rusia telah memblokir fitur telepon pada WhatsApp sebagai bagian dari tindakan keras terhadap platform media sosial yang berasal dari Barat. Para pengkritik melihat serangkaian tindakan ini sebagai upaya berkelanjutan Kremlin untuk memperketat kontrolnya terhadap akses internet publik dan aliran informasi di negara tersebut.
Pemerintah Rusia secara terbuka mengimbau warganya untuk segera beralih menggunakan aplikasi pesan instan lokal yang dianggap lebih patuh pada regulasi nasional.
WhatsApp dan Telegram saat ini merupakan dua platform pesan instan yang paling banyak digunakan di Rusia. Namun, pemerintah Rusia menuntut kedua aplikasi tersebut untuk menyediakan akses data pengguna kepada aparat penegak hukum, terutama untuk memfasilitasi penyelidikan yang berkaitan dengan kasus penipuan dan aktivitas yang dikategorikan sebagai terorisme.
Kekhawatiran Pengawasan Massal
Sebagai alternatif, Rusia secara aktif mempromosikan aplikasi pesan buatan dalam negeri bernama Max, yang menarik perhatian karena secara eksplisit tidak dilengkapi dengan pengaman enkripsi end-to-end.
Meta, perusahaan induk WhatsApp, mengecam keras kebijakan Rusia tersebut. Perwakilan Meta menyebut larangan tersebut sebagai bentuk represi terhadap hak warga untuk berkomunikasi secara aman dan pribadi.
“Rusia mencoba melarang aplikasi ini karena menentang upaya pemerintah melanggar hak rakyat atas komunikasi yang aman,” bunyi pernyataan terpisah dari Meta.
Kebijakan Rusia yang membatasi WhatsApp dan secara bersamaan mempromosikan aplikasi lokal tanpa sistem perlindungan privasi ini memicu kekhawatiran serius dari kelompok pemerhati hak asasi manusia. Mereka menilai bahwa kebijakan ini berpotensi disalahgunakan sebagai instrumen pengawasan massal. Kekhawatiran utama adalah penggunaan aplikasi tanpa enkripsi dapat memfasilitasi pembungkaman terhadap suara-suara yang mengkritik Presiden Vladimir Putin, kebijakan dalam negeri, serta sikap Rusia terhadap konflik seperti perang di Ukraina.
