Eskalasi Diplomatik: Menteri Israel Serang Kanselir Jerman Friedrich Merz Terkait Isu Tepi Barat
Internasional

Eskalasi Diplomatik: Menteri Israel Serang Kanselir Jerman Friedrich Merz Terkait Isu Tepi Barat

BERLIN/TEL AVIV – Hubungan diplomatik antara Jerman dan Israel mengalami ketegangan baru setelah terjadi perselisihan verbal yang melibatkan Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich. Konflik ini dipicu oleh penegasan sikap Berlin terhadap kebijakan pemukiman Israel di wilayah Tepi Barat.

BACA JUGA : Australia Atasi Krisis Pupuk Global Melalui Impor 250.000 Ton dari Indonesia

Keprihatinan Berlin atas Aneksasi De Facto

Perselisihan bermula dari percakapan telepon rutin antara Kanselir Friedrich Merz dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada pertengahan April 2026. Juru bicara kanselir, Stefan Kornelius, merilis pernyataan resmi yang menyoroti kekhawatiran mendalam Jerman terhadap perkembangan di wilayah Palestina.

Kanselir Merz, melalui pernyataan resmi dan unggahan di platform X, menegaskan posisi konsisten Jerman:

“Saya tegaskan: tidak boleh ada aneksasi de facto sebagian wilayah Tepi Barat.”

Pernyataan ini selaras dengan kebijakan luar negeri Jerman yang tetap berpegang teguh pada Solusi Dua Negara sebagai satu-satunya jalan keluar konflik Israel-Palestina. Jerman memandang langkah-langkah perluasan pemukiman sebagai hambatan bagi perdamaian berkelanjutan.

Reaksi Keras Bezalel Smotrich

Peringatan dari Berlin tersebut ditanggapi secara agresif oleh Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich. Politisi sayap kanan tersebut melontarkan kritik tajam yang menggunakan referensi historis sensitif terkait hubungan kedua negara.

Melalui media sosial, Smotrich menyatakan bahwa masa di mana Jerman dapat menentukan batasan bagi warga Yahudi telah berakhir. Ia juga menyinggung trauma masa lalu dengan menyatakan bahwa Israel tidak akan bisa dipaksa kembali ke dalam “ghetto”, merujuk pada pengasingan Yahudi di masa Nazi Jerman.

Pernyataan Smotrich ini dianggap sangat provokatif karena disampaikan menjelang Yom HaShoah, hari peringatan Holokaus di Israel. Para analis menilai bahwa Smotrich, yang sering menuai kontroversi atas pandangan xenofobia dan homofobianya, sengaja menggunakan retorika keras ini untuk memperkuat posisi politiknya menjelang pemilu parlemen Israel pada musim gugur mendatang.

Pembelaan dari Internal Diplomatik Israel

Meskipun terjadi serangan verbal dari anggota kabinet Netanyahu, jalur diplomatik resmi Israel berusaha meredam ketegangan. Duta Besar Israel untuk Jerman, Ron Prosor, secara terbuka membela Kanselir Merz.

Dalam wawancaranya dengan media Israel, Prosor menegaskan:

  • Friedrich Merz adalah sahabat besar Israel.
  • Pernyataan Merz mencerminkan posisi jangka panjang Jerman yang mendukung keamanan Israel sekaligus mengkritik kebijakan tertentu di wilayah pendudukan.
  • Penolakan terhadap kritik Smotrich dilakukan untuk menjaga stabilitas hubungan strategis Berlin-Tel Aviv yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Konteks Hubungan Bilateral

Ketegangan ini menunjukkan tantangan besar bagi pemerintahan Kanselir Merz dalam menyeimbangkan dukungan tanpa syarat terhadap keamanan Israel dengan kewajiban moral dan hukum internasional terkait hak-hak warga Palestina. Di sisi lain, pemerintahan sayap kanan Israel di bawah pengaruh tokoh seperti Smotrich semakin terbuka dalam menentang tekanan dari sekutu tradisional mereka di Eropa.

Hingga saat ini, pemerintah Jerman belum memberikan tanggapan resmi lanjutan terkait komentar pribadi Smotrich, namun Berlin tetap pada posisi awal bahwa aneksasi wilayah Tepi Barat tetap menjadi garis merah dalam diplomasi mereka.