Menelisik Kepemilikan dan Peran Tsingshan Group dalam Kawasan Industri Morowali (IMIP)
Politik

Menelisik Kepemilikan dan Peran Tsingshan Group dalam Kawasan Industri Morowali (IMIP)

Kawasan Industri Morowali (Indonesia Morowali Industrial Park/IMIP), yang terletak di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, telah menjelma menjadi salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia. Kawasan ini merupakan pusat hilirisasi nikel dan logam dasar yang krusial bagi program hilirisasi tambang nasional, serta kini menjadi bagian penting dalam rantai pasok global untuk industri stainless steel dan baterai kendaraan listrik.

Kawasan industri ini dikelola oleh PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Berdasarkan laman resmi perusahaan, kepemilikan saham PT IMIP didominasi oleh entitas asing yang terkait erat dengan Tiongkok.

Struktur Kepemilikan PT IMIP

Pemegang saham terbesar di PT IMIP adalah Shanghai Decent Investment Group yang menguasai 49,69 persen saham. Shanghai Decent Investment sendiri merupakan anak perusahaan dari Tsingshan Holding Group, salah satu produsen baja terbesar di dunia yang berasal dari Tiongkok.

Selain Shanghai Decent Investment, kepemilikan PT IMIP juga dipegang oleh dua entitas lain:

  1. PT Bintang Delapan Investama: Menggenggam 25,31 persen saham.
  2. PT Sulawesi Mining Investment: Memiliki 25 persen saham.

Menariknya, meskipun dua entitas terakhir adalah perusahaan lokal, kepemiluan PT Bintang Delapan Investama diketahui masih terafiliasi dengan perusahaan Tiongkok, menggarisbawahi dominasi pengaruh Tsingshan Group dalam operasional IMIP.

BACA JUGA : DPR Mendesak Investigasi Komprehensif Penyebab Banjir-Longsor Sumatera

Tsingshan Holding Group: Sang Raksasa Nikel Global

Tsingshan Holding Group didirikan pada tahun 1988 oleh konglomerat Xiang Guangda di Wenzhou, Tiongkok. Perusahaan ini mulai memasuki industri nikel di Indonesia pada tahun 2009. Xiang Guangda tercatat sebagai salah satu individu terkaya di Tiongkok Daratan, dengan kekayaan yang pernah mencapai 28 miliar dollar AS pada tahun 2018 menurut data Forbes.

Tsingshan Group tidak hanya berinvestasi melalui PT IMIP sebagai pengelola kawasan industri, tetapi juga memiliki anak-anak perusahaan dengan investasi besar di dalamnya. Salah satunya adalah PT Tsingshan Steel Indonesia (PT TSI). PT TSI mengoperasikan sejumlah smelter di kawasan IMIP, yang memproduksi nikel dalam bentuk pig iron dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 500.000 ton. Untuk mendukung operasional masif smelter ini, Tsingshan juga membangun fasilitas pembangkit listrik di Morowali berkapasitas 2×65 Megawatt (MW).

Anak perusahaan Tsingshan lainnya yang beroperasi di IMIP adalah PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (PT ITSS). Perusahaan ini sempat menjadi sorotan publik pada Desember 2023 akibat insiden ledakan di fasilitas smelter-nya yang menyebabkan 18 orang meninggal dunia, termasuk pekerja warga negara Tiongkok.

Jangkauan operasional Tsingshan Holding Group meluas secara global, dengan operasi signifikan di India, Singapura, Amerika Serikat, dan negara-negara lain, serta mengelola lebih dari 15 anak perusahaan atau kantor perwakilan. Kawasan Industri Morowali, yang dikembangkan melalui PT IMIP dengan total luas rencana lebih dari 2.000 hektar, merupakan proyek luar negeri pertama bagi Tsingshan Group.

Jaringan Perusahaan Tiongkok di IMIP

Selain PT ITSS dan PT TSI, laman resmi PT IMIP mencantumkan kehadiran beberapa perusahaan besar Tiongkok lainnya yang diklaim membentuk rantai pasok industri nikel dari hulu ke hilir terbesar di dunia. Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain:

  • PT Sulawesi Mining Investment Indonesia (SMI)
  • PT Guangqing Nickel Corporations Indonesia (GCNS)
  • PT Indonesia Ruipu Nichrome (IRNC)
  • PT Dexin Steel Indonesia (DSI)

Kehadiran entitas-entitas ini menunjukkan adanya integrasi vertikal dan horizontal yang mendalam yang didukung oleh modal dan teknologi dari Tiongkok.

Ekspansi ke Weda Bay Industrial Park (IWIP)

Investasi Tsingshan Group di Indonesia tidak terbatas pada Morowali. Grup ini juga mengembangkan fasilitas smelter nikel serupa di Halmahera di bawah naungan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).

Di kawasan IWIP, terdapat tiga perusahaan besar yang beroperasi, yaitu PT Weda Bay Nickel (WBN), PT Yashi Indonesia Investment, dan PT Youshan Nickel Indonesia. Ketiganya memiliki keterkaitan kepemilikan dengan Tsingshan Group:

  1. PT Yashi Indonesia Investment: Merupakan perusahaan patungan antara Tsingshan (melalui Shanghai Decent Investment), Zhejiang Huajun Investment, serta Zhenshi Holding Group.
  2. PT Weda Bay Nickel (WBN): Merupakan hasil kerja sama antara PT Aneka Tambang (Antam), Tsingshan, dan Eramet (perusahaan tambang dan metalurgi Prancis).
  3. PT Youshan Nickel Indonesia: Didirikan sebagai usaha patungan antara Huayou Group dan Tsingshan Holding Group, dan menjadi pionir dalam produksi komponen baterai kendaraan listrik di kawasan IWIP.

Dengan demikian, PT IMIP dan Kawasan Industri Morowali, serta ekspansi ke IWIP, secara efektif dikendalikan oleh Tsingshan Holding Group, menjadikan konglomerat Tiongkok ini pemain dominan dan penggerak utama dalam industri hilirisasi nikel Indonesia.