ACEH TAMIANG – Bencana banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang telah melumpuhkan infrastruktur kesehatan di wilayah tersebut. Sebanyak 12 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dilaporkan mengalami kerusakan berat setelah terendam luapan air. Kerusakan ini mencakup bangunan fisik, armada transportasi medis, hingga peralatan penunjang layanan kesehatan yang sangat krusial bagi masyarakat.
BACA JUGA : DPR Desak Percepatan Rekonstruksi Sumatera: 238 Ribu Rumah Rusak dan 29 Desa Hilang
Identifikasi Kerusakan Sarana dan Prasarana
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang, Mustakim, mengungkapkan bahwa tim dari Kementerian Kesehatan telah melakukan identifikasi langsung di lapangan. Hasilnya, tingkat kerusakan dikategorikan dalam skala berat.
Beberapa poin utama kerusakan yang dilaporkan meliputi:
- Armada Medis: Mobil ambulans dan kendaraan Puskesmas Keliling (Pusling) terendam banjir sehingga membutuhkan perbaikan total.
- Peralatan Medis dan Mebel: Furnitur penunjang layanan kesehatan hancur. Perabotan berbahan kayu dilaporkan rusak sepenuhnya, sementara perabotan berbahan besi mengalami deformasi atau bengkok akibat hantaman arus dan rendaman air.
- Fasilitas Perkantoran: Perangkat meja dan kursi kerja bagi tenaga medis juga dilaporkan banyak yang hilang atau tidak lagi layak fungsi.
Dedikasi Tenaga Kesehatan di Tengah Keterbatasan
Meskipun fasilitas fisik mengalami kerusakan parah, Mustakim menegaskan bahwa pelayanan kesehatan terhadap masyarakat tidak terhenti. Sebanyak 1.253 tenaga kesehatan di Kabupaten Aceh Tamiang tetap bersiaga dan memberikan layanan secara optimal.
“Para tenaga kesehatan tetap semangat. Mereka tidak hanya melayani di gedung Puskesmas yang masih bisa difungsikan, tetapi juga bergerak menjemput bola ke titik-titik pengungsian di seluruh kabupaten,” ujar Mustakim saat melepas relawan kesehatan di RSUD Muda Sedia, Kamis (15/1/2026).
Kolaborasi Pemulihan dan Dukungan Multisektor
Saat ini, ke-12 Puskesmas tersebut sudah mulai beroperasi kembali berkat upaya rehabilitasi cepat yang melibatkan berbagai elemen. Mustakim menyampaikan apresiasi kepada kementerian dan berbagai organisasi yang memberikan dukungan sejak awal bencana, di antaranya:
- Kementerian Kesehatan RI: Pengiriman bantuan logistik dan tim relawan secara bertahap.
- TNI dan Polri: Personel bantuan untuk pembersihan dan normalisasi fasilitas umum.
- LSM (NGO) dan Organisasi Profesi: Khususnya Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang turut serta dalam pemulihan layanan medis.
Penurunan Titik Pengungsian
Hadirnya bantuan medis dan relawan secara konsisten terbukti efektif dalam menangani krisis kesehatan pascabencana. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, jumlah titik pengungsian di 12 kecamatan mengalami penurunan yang sangat signifikan:
- Awal Bencana: 720 titik pengungsian.
- Pasca Kehadiran Relawan Gelombang 1 & 2: Berkurang menjadi 601 titik.
- Posisi Per 16 Januari 2026: Tersisa 129 titik pengungsian.
Penurunan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar warga telah mulai kembali ke rumah masing-masing, meskipun pemantauan kesehatan tetap dilakukan secara intensif untuk mencegah munculnya penyakit pascabanjir.



