BIAK NUMFOR – Kehadiran Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, di Pasar Ikan Fandoi, Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Selasa (13/1/2026), membawa secercah harapan bagi para pedagang lokal. Kunjungan kerja ini menjadi momen emosional bagi masyarakat setempat, terutama para “Mama Papua” yang menggantungkan hidup dari hasil laut.
BACA JUGA : Menhan Sjafrie Sjamsoeddin: Yonif TP Memiliki Peran Ganda dalam Keamanan dan Pembangunan Nasional
Meskipun berlangsung singkat, kunjungan tersebut menyisakan catatan penting mengenai persoalan ekonomi dan ketenagakerjaan yang masih membayangi Bumi Cendrawasih.
Sapaan Hangat dan Dukungan untuk Pedagang Lokal
Salah satu pedagang ikan, Flora Aibekob (54), mengungkapkan rasa bangga dan antusiasmenya saat bertemu langsung dengan orang nomor dua di Indonesia tersebut. Dalam kesempatan itu, Wapres Gibran menunjukkan dukungannya dengan memborong dagangan Flora, termasuk tumpukan ikan sako dan ikan julung-julung.
“Senang, bangga, dan semangat sekali karena kami adalah pendukung beliau,” ujar Flora. Baginya, pertemuan singkat ini sangat berkesan, meski ia belum sempat berdialog panjang mengenai keluh kesah yang selama ini dirasakan para pedagang.
Isu Pengangguran: Harapan Besar bagi Generasi Muda Papua
Di balik kegembiraan bertemu Wapres, Flora menitipkan harapan mendalam terkait masa depan anak-anak Papua. Sebagai ibu dari empat anak yang semuanya telah menyelesaikan pendidikan tinggi, ia menyoroti tingginya angka pengangguran di daerahnya.
Flora menceritakan realitas pahit di mana ijazah sarjana belum menjamin ketersediaan lapangan kerja:
- Kesenjangan Lapangan Kerja: Dari empat anaknya yang sudah lulus kuliah, tiga di antaranya masih menganggur di rumah.
- Harapan Pembangunan Manusia: Flora berharap pemerintah tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga menciptakan ekosistem pekerjaan yang mampu menyerap tenaga kerja lokal hasil didikan perguruan tinggi.
“Harus Papua dibangun agar anak-anak kami tidak sekadar memegang ijazah tanpa pekerjaan. Kami ingin mereka bisa mengabdi setelah susah payah kuliah,” tuturnya penuh harap.
Stabilitas Harga dan Perlindungan Pasar Tradisional
Selain isu ketenagakerjaan, kondisi ekonomi pasar juga menjadi perhatian utama. Flora mengungkapkan bahwa stabilitas harga ikan di Pasar Fandoi sempat terganggu pada tahun lalu akibat masuknya pasokan ikan dari kapal-kapal operasi besar yang langsung mendistribusikan ikan ke pasar dalam jumlah masif.
Hal ini sempat menyebabkan harga ikan lokal jatuh di bawah standar:
- Fluktuasi Harga: Harga ikan sako sempat anjlok hingga Rp 20.000 per 20 ekor, sebuah angka yang dinilai tidak sebanding dengan biaya operasional nelayan kecil.
- Kondisi Terkini: Saat ini harga mulai merangkak naik ke level normal, namun pedagang berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat mengatur regulasi distribusi ikan agar nelayan tradisional tidak kalah bersaing dengan kapal besar.
Penutup: Pesan untuk Pemerintah Pusat
Kunjungan Wapres Gibran ke Biak Numfor menjadi simbol bahwa pemerintah pusat tetap menaruh perhatian pada wilayah paling timur Indonesia. Bagi masyarakat seperti Flora, kehadiran pejabat negara bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah peluang untuk mengingatkan pemerintah bahwa pembangunan Papua harus menyentuh aspek paling mendasar: kesejahteraan dapur rakyat dan masa depan generasi mudanya.


